Sejarah
bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan peradaban manusia itu sendiri.
Perkembangan bahasa Indonesia berawal pada tahun 1908 yaitu pada saat era Boedi
Utomo. Lalu, pada tahun 1928 Bahasa Indonesia mengalami perkembangan kembali
tepatnya pada saat sumpah pemuda. Secara umum Bahasa memiliki arti, sifat, dan
fungsi.
Bahasa memiliki arti sistem lambang
bunyi untuk berkomunikasi masyarakat tertentu. Bahasa juga memiliki empat
sifat. Yang pertama, Bahasa memiliki sifat unik karena memiliki kosakata
sendiri. Lalu, Bahasa memiliki sifat arbiter yang berarti Bahasa merupakan
sebuah kesepakatan. Selain itu, bahasa juga memiliki sifat konvensional yaitu
bahasa diatur oleh masyarakat itu sendiri. Dan yang terakhir, Bahasa bersifat
universal artinya Bahasa mudah dipahami secara menyeluruh.
Bahasa memiliki beberapa fungsi.
Yang pertama, Bahasa berfungsi sebagai komunikasi. Lalu, Bahasa juga berfungsi
sebagai ungkapan emosional. Selain itu, Bahasa memiliki fungsi untuk
mengembangkan diri. Dan yang terakhir, Bahasa berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan bakat seseorang sesuai dengan kecerdasannya.
Ejaaan yang disempurnakan (EYD) terdiri
dari beberapa periode. Periode pertama yaitu periode Op Huijsen. Pada periode
ini masih menggunakan kata-kata yang berasal dari Belanda. Periode kedua yaitu
periode Soewandi dimana aturan ejaannya dibuat setelah kemerdekaan. Periode selanjutnya
adalah periode Melindo. Dan yang
terakhir adalah periode Ejaan yang disempurnakan (EYD).
Problematika saat ini, banyak orang
khususnya para pelajar atau mahasiswa yang tidak memperhatikan penggunaan Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD) dalam proses penulisan sebuah tulisan. Bahkan hal itu
sering kali dianggap remeh sehingga ejaan dalam Bahasa Indonesia menjadi
melemah. Kelemahan ejaan ini lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan yang
dilakukan para pelajar atau mahasiswa bahkan dikalangan guru atau dosen
sekalipun.
Di
berbagai sekolah atau Universitas banyak ditemukan kesalahan-kesalahan dalam
penulisan sebuah tulisan baik itu ilmiah maupun non ilmiah. Para pelajar atau
mahasiswa cenderung mengabaikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan lebih sering
menulis dengan kaidah-kaidah penulisan yang salah. Misalnya dalam penggunaan
tanda baca, pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan kata ganti dan lain
sebagainya. Untuk itu seharusnya kita harus mendalami pembelajaran dalam
penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dengan cara memperhatikan
kaidah-kaidah penulisan di dalam Bahasa Indonesia sehingga kelemahan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD) dalam Bahasa Indonesia dapat berkurang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar