Paragraf
mempunyai tiga struktur wilayah. Wilayah pertama merupakan ide pokok kalimat
utama. Wilayah kedua merupakan gagasan utama yang merupakan pencetus tema dan
judul. Wilayah ini terdiri dari topik, inti, isi dan pikiran utama. Dan wilayah
ketiga berisi simpulan, ringkasan dan rangkuman.
Pola paragraf terdiri dari pola deduktif
dan pola induktif. Pola deduktif bernalar
fokusnya pada sebab sedangkan pola induktif bernalar fokusnya pada akibat. Pola
deduktif digunakan untuk memecahkan kasus-kasus pidana sedangkan pola induktif
digunakan untuk memecahkan kasus-kasus perdata. Pola deduktif cara bernalarnya
silogisme dan dikembangkan dengan entilmen. Sedangkan untuk pola induktif cara
bernalarnya dengan menggunakan teknik menyimpulkan GAS-DK.
Generalisasi adalah teknik
menyimpulkan yang hanya dapat berlaku untuk hal yang positif. Analogi adalah
membandingkan dua hal yang berbeda dicirikan dengan kata laksana, umpama,
seperti dan sama halnya. Sebab-Akibat adalah merupakan salah satu teknik
menyimpulkan pada pola induktif. Definisi adalah teknik menyimpulkan dengan
mendefinisikannya sendiri. Klarifikasi adalah teknik menyimpulkan dengan cara
dikelompokkan.
Jenis paragraf dapat disingkat
menjadi DEPAN. Deskripsi adalah penggambaran dimana objeknya bisa abstrak atau
konkret. Eksposisi adalah teks atau bacaan yang memiliki tema unik dan memiliki
tujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan
menerangkan suatu topik kepada pembaca. Persuasif adalah jenis paragraf yang
bertujuan membujuk pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan
penulisnya. Argumentasi adalah jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan,
atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta). Tujuannya adalah agar
pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan
terbukti. Narasi adalah jenis paragraf yang berupa cerita fiksi atau dongeng.
Dalam
kehidupan sehari-hari khususnya dalam komunikasi tulis ilmiah, paragraf
memegang peranan penting. Gagasan-gagasan penulis hanya dapat disampaikan
kepada pembaca melalui paragraf-paragraf. Paragraf yang tidak memiliki kesatuan
dan kepaduan gagasan, tidak memiliki kejemihan penalaran, dan tidak memiliki
kefektifan bahasa dapat mengakibatkan ketidakjelasan gagasan yang akan
dikomunikasikan. Pembaca akan salah dalam memahami maksud penulis. Bila hal ini
terjadi, pesan yang disampaikan penulis tidak mungkin ditangkap oleh pembaca
tepat seperti yang dimaksud penulis. Akibatnya, ciri ilmiahnya pun hilang. Oleh
karena itu, kemahiran dalam menulis paragraf yang baik mutlak diperlukan bagi
siapa saja yang terlibat dalam komunikasi ilmiah.
Dalam
ilmu Biologi, terpadat sebuah pola yang bernama pola hereditas. Pola hereditas
adalah suatu proses penurunan sifat-sifat dari induk keketurunannya melalui gen
dan bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh. Pendapat ini
dicetuskan oleh Witherington. Secara umum hereditas diartikan sebagai pewarisan
sifat dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau
secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial. Pewarisan sifat ini
biasanya berhubungan dengan struktur tubuh dan bukan tingkah laku karena
tingkah laku makhluk hidup lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar