Kamis, 08 September 2016

Bahasa



             Huruf terdiri dari dua macam yaitu huruf vokal dan huruf konsonan. Gabungan dari beberapa huruf adalah kata. Kata terdiri dari beberapa kelas kata diantaranya adalah kelas kata nominal, verbal, adjektiva, numeralia dan adverbia. Kata terdiri dari empat macam yaitu kata baku, kata tidak baku, kata serapan, dan kata istilah.

            Kata baku berhubungan dengan struktur yang sudah dibakukan. Kata tidak baku berkaitan dengan sikap lisan. Kata serapan mensikronisasikan kata bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kata istilah merupakan kata-kata dari disiplin ilmu yang mempunyai makna yang sama. Contoh dari kata istilah adalah imunisasi.

            Frase merupakan gabungan dua kata atau lebih yang menduduki struktur S-P-O-K. Klausa terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Diantara induk kalimat dan anak kalimat dihubungkan oleh konjungsi (kata penghubung). Contoh : Aris memasak kentang di kebun.

            Kalimat memiliki struktur/pola yang terdiri dari subjek, predikat, objek, dan keterangan. Keterangan dapat berupa keterangan waktu, keterangan tempat, dan  keterangan suasana. Kalimat majemuk terdiri dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara dihubungkan dengan kata hubung “dan” atau “ketika”. Sedangkan kalimat majeemuk bertingkat dihubungkan denan kata hubung “sedangkan” atau “walaupun”.

            Seiring dengan perkembangan zaman, banyak ditemukan bahasa yang menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia, seperti munculnya bahasa gaul. Dewasa ini, kesadaran untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja mulai menurun, mereka lebih senang menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia. Fenomena seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena hal ini dapat merusak kebakuan dan merancukan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia harus tetap berkembang, walaupun diterpa oleh kemunculan bahasa-bahasa asing dan bahasa pergaulan.

Selain itu, antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia juga harus berkembang seimbang agar peran bahasa Indonesia di era global ini diakui dan tetap berdiri tegak di Indonesia. Bahasa pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa Indonesia dalam konteks kebudayaan nasional merupakan komponen yang paling representatif dan dominan, termasuk upaya melanggengkan kesatuan bangsa.

Pada dasarnya perkembangan bahasa manusia  itu terkait erat  dengan faktor biologinya. Sejak kira-kira satu abad yang lalu, sudah ada asumsi dasar bahwa ada kaitan langsung antara bahasa dan otak. Seorang ahli bernama Dr. Paul Broca mengatakan bahwa kemampuan berbicara berpusat pada otak sebelah kiri. Apabila input yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyi itu ditanggapi di lobus temporal tepatnya di korteks primer pendengaran. Disini input yang masuk tadi diolah secara rinci. Setelah diterima, dicerna, dan diolah maka bunyi-bunyi bahasa tadi dikirim ke daerah wernicke untuk diinterpresatikan. Di daerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa, dan akhirnya kalimat.

Contoh lainnya adalah bahasa tari lebah. Peranan pembangkit rangsang yang bernilai informatif dan merupakan suatu bahasa, terdapat dalam dua hal: yang pertama ialah tari-tarian yang informatif dari lebah; hal ini ditemukan oleh von Frisch dari penyelidikan-penyelidikannya yang diteliti dapat ditentukan bahwa seokor lebah dapat memberitahukan sesuatu kepada lebah lainnya umpama tentang adanya makanan pada tempat, jarak dan  arah yang sedimikian; kedua hal ini diberitahukan dengan bahasa tari. Lebah akan mempertunjukan tarian dalam bentuk angka delapan.

Dengan fakta-fakta yang telah dipaparakan diatas maka pandangan masa kini mengenai bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologis, khususnya fenomena biologi perkembangan. Salah satu akibat dari munculnya suatu elemen dalam bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau memperlambat muculnya suatu elemen bahasa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar