Huruf
terdiri dari dua macam yaitu huruf vokal dan huruf konsonan. Gabungan dari
beberapa huruf adalah kata. Kata terdiri dari beberapa kelas kata diantaranya
adalah kelas kata nominal, verbal, adjektiva, numeralia dan adverbia. Kata
terdiri dari empat macam yaitu kata baku, kata tidak baku, kata serapan, dan
kata istilah.
Kata baku berhubungan dengan
struktur yang sudah dibakukan. Kata tidak baku berkaitan dengan sikap lisan.
Kata serapan mensikronisasikan kata bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia.
Kata istilah merupakan kata-kata dari disiplin ilmu yang mempunyai makna yang
sama. Contoh dari kata istilah adalah imunisasi.
Frase merupakan gabungan dua kata
atau lebih yang menduduki struktur S-P-O-K. Klausa terdiri dari induk kalimat
dan anak kalimat. Diantara induk kalimat dan anak kalimat dihubungkan oleh
konjungsi (kata penghubung). Contoh : Aris memasak kentang di kebun.
Kalimat memiliki struktur/pola yang
terdiri dari subjek, predikat, objek, dan keterangan. Keterangan dapat berupa
keterangan waktu, keterangan tempat, dan
keterangan suasana. Kalimat majemuk terdiri dari kalimat majemuk setara
dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara dihubungkan dengan kata
hubung “dan” atau “ketika”. Sedangkan kalimat majeemuk bertingkat dihubungkan
denan kata hubung “sedangkan” atau “walaupun”.
Seiring
dengan perkembangan zaman, banyak ditemukan bahasa yang menyimpang dari kaidah
bahasa Indonesia, seperti munculnya bahasa gaul. Dewasa ini, kesadaran untuk
berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja mulai menurun,
mereka lebih senang menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia. Fenomena
seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena hal ini dapat merusak
kebakuan dan merancukan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia harus tetap
berkembang, walaupun diterpa oleh kemunculan bahasa-bahasa asing dan bahasa
pergaulan.
Selain
itu, antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia juga harus berkembang seimbang
agar peran bahasa Indonesia di era global ini diakui dan tetap berdiri tegak di
Indonesia. Bahasa pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kebudayaan. Oleh karena itu, bahasa Indonesia dalam konteks kebudayaan nasional
merupakan komponen yang paling representatif dan dominan, termasuk upaya
melanggengkan kesatuan bangsa.
Pada
dasarnya perkembangan bahasa manusia itu terkait erat dengan faktor
biologinya. Sejak kira-kira satu abad
yang lalu, sudah ada asumsi dasar bahwa ada kaitan langsung antara bahasa dan
otak. Seorang ahli bernama Dr. Paul Broca mengatakan bahwa kemampuan berbicara
berpusat pada otak sebelah kiri. Apabila input yang masuk adalah dalam bentuk
lisan, maka bunyi itu ditanggapi di lobus temporal tepatnya di korteks primer
pendengaran. Disini input yang masuk tadi diolah secara rinci. Setelah
diterima, dicerna, dan diolah maka bunyi-bunyi bahasa tadi dikirim ke daerah wernicke untuk diinterpresatikan. Di
daerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa,
dan akhirnya kalimat.
Contoh
lainnya adalah bahasa tari lebah. Peranan pembangkit rangsang yang bernilai
informatif dan merupakan suatu bahasa, terdapat dalam dua hal: yang pertama ialah
tari-tarian yang informatif dari lebah; hal ini ditemukan oleh von Frisch dari
penyelidikan-penyelidikannya yang diteliti dapat ditentukan bahwa seokor lebah
dapat memberitahukan sesuatu kepada lebah lainnya umpama tentang adanya makanan
pada tempat, jarak dan arah yang sedimikian; kedua hal ini diberitahukan
dengan bahasa tari. Lebah akan mempertunjukan tarian dalam bentuk angka
delapan.
Dengan
fakta-fakta yang telah dipaparakan diatas maka pandangan masa kini mengenai
bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologis, khususnya fenomena
biologi perkembangan. Salah satu akibat dari munculnya suatu elemen dalam
bahasa adalah masalah genetik. Orang tidak dapat mempercepat atau memperlambat muculnya
suatu elemen bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar