Selasa, 07 Januari 2014

Ospek, Tradisi turun-temurun perlukah dibudayakan ?

Ospek. Kata ini sudah sangat familiar di masyarakat. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek merupakan momentum bersejarah bagi setiap mahasiswa baru yang memasuki pintu gerbang perguruan tinggi. Ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan awal pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru.Mahasiswa baru tak afdol rasanya jika tidak melewati masa ospek karena ospek adalah sebuah kegiatan perkenalan kampus untuk mahasiswa baru.

Ospek yang kita kenal sekarang tentu tidak muncul tiba-tiba bagai simsalabim. Ospek ternyata punya sisi historis yang cukup panjang. Ospek merupakan metamorfosa nama dari proses penerimaan mahasiswa baru yang awalnya dikenal dengan istilah Ontgroening.Ospek itu tradisi yang sudah tersistem menjadi kultur kampus. Dari yang awalnya esensi ospek sebagai pengenalam kampus. Kemudian, ospek menjadi hal yang wajib.Namun, soal nama tidak lagi menjadi ospek, namun ada berbagai macam nama sesuai dengan kebijakan universitas.

Dalam kenyataannya ospek di Indonesia masih diwarnai dengan unsur kekerasan, penindasan dan militerisme sebagaimana tercermin dalam tindakan membentak-bentak, penciptaan suasana yang anti dialog atau pada pemberian sanksi yang cenderung bersifat fisik semata tanpa ada kaitan sama sekali dengan pembentukan karakter dan idealisme mahasiswa.

Ospek yang demikian itu justru menimbulkan “situasi penindasan”. Mahasiswa lama (panitia Ospek) sebagai penindas dan mahasiswa baru (peserta Ospek) sebagai kaum tertindas. Sebenarnya, setiap tahun, masyarakat telah menyampaikan banyak kritikan dan keberatan atas pelaksanaan ospek yang ditengarai banyak diwarnai kekerasan, penindasan dan nuansa militer seperti itu . Akan tetapi, nyatanya, walau selalu menuai kritik,pelaksanaan Ospek tidak banyak berubah.

Berdasarkan analisis Paulo Freire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan pembebasan dari Brasil, para panitia Ospek bisa seperti itu karena dulunya pada waktu menjadi peserta Ospek mereka juga pernah mengalami “situasi penindasan”. Dalam bukunya Pedagogiof The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas,LP3ES, 1985) Freire mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaum tertindas melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka mengidentifikasidirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas dan tercerabut dari kemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum penindas yang berkuasa dengan harkat kemanusian yang sempurna. Kaum tertindas sulit untuk menemukan citra diri di luar kontradiksi penindas-tertindas. Karena itu, bagi mereka, upaya pembebasan diri untuk mendapatkan harkat dan martabat kemanusiannya, adalah dengan menjadi manusia yang memiliki citra diri seperti yang mereka temukan dalam sosok para penindas.

Dari paparan di atas, apabila pelaksanaan Ospek masih diwarnai dengan nuansa penindasan, setidaknya memunculkan dua hal. Pertama, Ospek melahirkan “situasi penindasan”.“Situasi penindasan” akan melahirkan sosok-sosok penindas baru yang suatu saat apabila mendapatkan kesempatan akan mencoba untuk melahirkan situasi penindasan baru, begitu pula nanti seterusnya. Kedua, Ospek akan melahirkan generasi yang patuh, acuh tak acuh, tidak kritis dan tidak berani menentang terhadap praktik-praktik penindasan.

Lain halnya dengan Perguruan Tinggi di Jerman, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan penerimaan mahasiswa baru disana tidak membuang waktu lama. Pengenalan mahasiswa baru secara efektif hanya diselenggarakan selama kurang lebih 2-3 hari. Rincian kegiatan juga kurang lebih serupa, mahasiswa baru diterima secara langsung oleh petinggi Perguruan Tinggi setara Rektor, Pembantu Rektor bidang akademik ataupun Dekan Fakultas.Mereka mendapatkan pengarahan akademis secara umum dalam tingkatan universitas,fakultas dan jurusan. Lalu dilanjutkan dengan Tour de Campus untuk mengenalkan fasilitas kampus itu sendiri, juga mengemas kegiatan ini menjadi sebuah permainan seru. Selebihnya mereka mengadakan acara kumpul-kumpul bersama seperti Barbeque Party di taman kampus atau Welcoming Party di sebuah klub. Tak ada satupun kegiatan ‚bantai-membantai antara senior terhadap junior.

Tradisi budaya boleh berbeda,namun tak ada salahnya apabila kita bisa mengambil sisi positif dari hal yang positif .Melihat juga usia mahasiswa yang sudah layak disebut dewasa maka alangkah baiknya mereka diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan seniornya dengan cara yang bijak dan perlakuan yang dewasa pula, tanpa melibatkan tindakan kekerasan yang berpotensi menimbulkan anarkis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar