Pemahaman struktur populasi merupakan hal yang sangat
dibutuhkan bagi konservasi satwaliar, baik dalam mendefinisikan unit konservasi
yang dituju, unit signifikan serta unit manajemennya. Dan untuk
mengidentifikasi hal yang membatasi kemampuan bertahan bagi populasi. Teori
metapopulasi memberikan satu kerangka kerja konseptual untuk mempertimbangkan
struktur dan demografi populasi.
Secara konsep dan penerapannya, teori
metapopulasi lebih fokus pada jenis nonmigran. Walaupun sering diterapkan pada
mammalia, teori ini juga terbukti bermanfaat bagi burung. Ketika diterapkan
pada burung migran, teori metapopulasi mengatur dalam mempertimbangkan
interaksi antar kelompok burung dari area yang berbeda.
Pada burung non migran, derajat bebas
demografi secara jelas berhubungan dengan geografi, dan pertukaran individu
merupakan fungsi dari kemungkinan pemencaran di antara area geografi. Pada
contoh metapopulasi secara umum, subpopulasi terpisah jelas secara spasial dan
akan saling bertemu dengan individu pada subpopulasi lain hanya jika terjadi
pemencaran. Proses demografi akan mempengaruhi kelompok hewan di dalam
masing-masing area dalam menetapkan kemungkinan kepunahan subpopulasi. Jika
laju pemencaran cukup tinggi, maka akan mencegah kepunahan pada masing-masing area.
Penerapan teori metapopulasi pada
hewan migran akan menjadi masalah yang lebih rumit.. Ketika diterapkan teori
metapopulasi pada konservasi burung, akan menjadi hal yang sangat penting untuk
mempertimbangkan bahwa area bukanlah unit dari konservasi dan bukanlah unit
dari metapopulasi. Untuk jenis migran, definisi unit ini tidak bisa dibenarkan
tanpa memepertimbangkan banyak hal dari isolasi geografi dan kemungkinan
pemencaran pada satu tahapan hidup. Kelompok yang jelas terpisah secara
spasial, pada bagian lain dalam siklus tahunannya mungkin akan berada bersama
dengan yang lain. Namun, kebersamaan secara waktu dan lokasi pada bagian lain
siklus tahunan tidaklah terlalu penting. Lebih lanjutnya, faktor yang memicu
kebebasan secara demografi dapat terjadi pada seluruh bagian siklus tahunan
dari burung migran.
Konsep metapopulasi merupakan suatu
alat yang sangat bermanfaat bagi konservasi burung termasuk burung migran, yang
menyediakan kerangka kerja bagaimana dinamika beberapa populasi dapat
dipertimbangkan dan diprediksi. Penetapan struktur populasi mana yang masih
bertahan untuk jenis migran sulit dalam mengidentifikasi subpopulati yang bebas
secara demografi. Kelompok hewan yang terpisah belum bisa dianggap sebagai
metapopulasi. Identifikasi kelompok hewan yang sebagai subpopulatsi yang
terpisah secara demorafi di dalam populasi merupakan hal yang penting dalam
menentukan strategi konservasi. Sebagai contoh, kerangka kerja konseptual dari
teori metapopulasi dapat diterapkan pada beberapa burung migran. Untuk
mengetahui teori matapopulasi mana yang bisa diaplikasikan, informasi yang
lebih banyak dibutuhkan bagi jenis migran dibandingkan dengan nonmigran.
Parameter lain yang dibutuhkan untuk menetapkan pemahaman tentang derajat bebas
demografi subpopulasi dapat termasuk ke dalam penyebaran pada seluruh siklus
hidup tahunannya (pemisahan secara spasial dan temporal), mekanisme tingkah
laku, dan terutama interaksi antara spasial, temporal dan mekanisme tingkah
laku.
Pada beberapa kasus, struktur
metapopulasi dapat dijelaskan selama sebagian dari siklus tahunan, seperti pada
area yang terpisah pembiakannya. Pada kasus ini, konsep metapopulasi dapat
membantu dalam konservasi populasi. Namun struktur populasi yang hanya pada
sebagian siklus tahunan tidaklah bisa mengindikasikan struktur populasi dan
interaksi pada bagian siklus tahunan lainnya. Lebih lanjutnya, struktur
populasi selama musim kawin sebaiknya tidak dipertimbangkan sebagai struktur
populasi yang definitif. Struktur populasi selama musim dinginlah yang menjadi
penting, dibandingkan dengan musim kawin. Sebagai contoh burung Bristle-thighed
Curlews dan Kirtland’s Warblers memperlihatkan bagaimana penerapan teori
metapopulasi selama musim non kawin memiliki arti penting dalam konservasi
spesies ini. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis burung
temperata biasa yang nonmigran. Contohnya pada burung Blue Tits (Parus
caeruleus L.) di daerah mediteranian, burung ini akan berbiak pada lokasi source
dan kemudian akan melakukan emigrasi ke daerah sink.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar