Sabtu, 20 Mei 2017

Metapopulasi pada Konservasi Burung Migran



             Pemahaman struktur populasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan bagi konservasi satwaliar, baik dalam mendefinisikan unit konservasi yang dituju, unit signifikan serta unit manajemennya. Dan untuk mengidentifikasi hal yang membatasi kemampuan bertahan bagi populasi. Teori metapopulasi memberikan satu kerangka kerja konseptual untuk mempertimbangkan struktur dan demografi populasi.

            Secara konsep dan penerapannya, teori metapopulasi lebih fokus pada jenis nonmigran. Walaupun sering diterapkan pada mammalia, teori ini juga terbukti bermanfaat bagi burung. Ketika diterapkan pada burung migran, teori metapopulasi mengatur dalam mempertimbangkan interaksi antar kelompok burung dari area yang berbeda.

            Pada burung non migran, derajat bebas demografi secara jelas berhubungan dengan geografi, dan pertukaran individu merupakan fungsi dari kemungkinan pemencaran di antara area geografi. Pada contoh metapopulasi secara umum, subpopulasi terpisah jelas secara spasial dan akan saling bertemu dengan individu pada subpopulasi lain hanya jika terjadi pemencaran. Proses demografi akan mempengaruhi kelompok hewan di dalam masing-masing area dalam menetapkan kemungkinan kepunahan subpopulasi. Jika laju pemencaran cukup tinggi, maka akan mencegah kepunahan pada masing-masing area.

            Penerapan teori metapopulasi pada hewan migran akan menjadi masalah yang lebih rumit.. Ketika diterapkan teori metapopulasi pada konservasi burung, akan menjadi hal yang sangat penting untuk mempertimbangkan bahwa area bukanlah unit dari konservasi dan bukanlah unit dari metapopulasi. Untuk jenis migran, definisi unit ini tidak bisa dibenarkan tanpa memepertimbangkan banyak hal dari isolasi geografi dan kemungkinan pemencaran pada satu tahapan hidup. Kelompok yang jelas terpisah secara spasial, pada bagian lain dalam siklus tahunannya mungkin akan berada bersama dengan yang lain. Namun, kebersamaan secara waktu dan lokasi pada bagian lain siklus tahunan tidaklah terlalu penting. Lebih lanjutnya, faktor yang memicu kebebasan secara demografi dapat terjadi pada seluruh bagian siklus tahunan dari burung migran.

            Konsep metapopulasi merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat bagi konservasi burung termasuk burung migran, yang menyediakan kerangka kerja bagaimana dinamika beberapa populasi dapat dipertimbangkan dan diprediksi. Penetapan struktur populasi mana yang masih bertahan untuk jenis migran sulit dalam mengidentifikasi subpopulati yang bebas secara demografi. Kelompok hewan yang terpisah belum bisa dianggap sebagai metapopulasi. Identifikasi kelompok hewan yang sebagai subpopulatsi yang terpisah secara demorafi di dalam populasi merupakan hal yang penting dalam menentukan strategi konservasi. Sebagai contoh, kerangka kerja konseptual dari teori metapopulasi dapat diterapkan pada beberapa burung migran. Untuk mengetahui teori matapopulasi mana yang bisa diaplikasikan, informasi yang lebih banyak dibutuhkan bagi jenis migran dibandingkan dengan nonmigran. Parameter lain yang dibutuhkan untuk menetapkan pemahaman tentang derajat bebas demografi subpopulasi dapat termasuk ke dalam penyebaran pada seluruh siklus hidup tahunannya (pemisahan secara spasial dan temporal), mekanisme tingkah laku, dan terutama interaksi antara spasial, temporal dan mekanisme tingkah laku.

            Pada beberapa kasus, struktur metapopulasi dapat dijelaskan selama sebagian dari siklus tahunan, seperti pada area yang terpisah pembiakannya. Pada kasus ini, konsep metapopulasi dapat membantu dalam konservasi populasi. Namun struktur populasi yang hanya pada sebagian siklus tahunan tidaklah bisa mengindikasikan struktur populasi dan interaksi pada bagian siklus tahunan lainnya. Lebih lanjutnya, struktur populasi selama musim kawin sebaiknya tidak dipertimbangkan sebagai struktur populasi yang definitif. Struktur populasi selama musim dinginlah yang menjadi penting, dibandingkan dengan musim kawin. Sebagai contoh burung Bristle-thighed Curlews dan Kirtland’s Warblers memperlihatkan bagaimana penerapan teori metapopulasi selama musim non kawin memiliki arti penting dalam konservasi spesies ini. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis burung temperata biasa yang nonmigran. Contohnya pada burung Blue Tits (Parus caeruleus L.) di daerah mediteranian, burung ini akan berbiak pada lokasi source dan kemudian akan melakukan emigrasi ke daerah sink.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar