Judul : Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi
IndonesiaPenulis : Denny J.A
Tebal : 124 Halaman
Penerbit : LKIS Yogyakarta
ISBN : 979-25-5239-1
“Ternyata jalan menuju tanahharapan, yaitu demokrasi murni, masih panjang dan berliku”
Buku Jatuhnya
Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia yang ditulis oleh Denny
J.Aini ditulis dengan cara menganalisa suatu peristiwa dan memberi
komentar yang kemudian dipublikasikan di media massa Indonesia, mulai
dari Kompas, GATRA,Forum keadilan, GAMMA, dan Republika, sampai dengan
Juli 1999. Buku ini dipersiapkan untuk merekam aneka peristiwa politik
penting sejak jatuhnya Soeharto sampai ke suasana menjelang terbentuknnya
pemerintahan baru hasil pemilu 1999.
Masalah yang
dibahas dibuku ini mencakup, bagaimana kontestasi makna formasi dalam
dramatisme di Indonesia pada periode 1997 sampai tahun 1998 dan bagaimana
peran aktor-aktor politik dalam tindakan komunikasi politik mereka dalam
gerakan reformasi tersebut. Dalam pidato bung Karno sendiri pada tangaal
17 Agustus 1964 pernah menyebutkan bahwa siapa yang anti NASAKOM berarti
dia telah membincangkan dan mencampakkan revolusi, dan tidak penuh
revolusioner, bahkan historis kontra revolusioner
.
Reformasi akan
terlaksana jika perubahan politik substansial dengan menggunakan
mekanisme konstitusi yang ada. Ada tiga pendukung reformasi yang
bertindak dalam tiga hal, Pertama, mereka harus menyelesaikan fragmentasi
dan persaingan kepemimpinan di kalangan mereka sendiri, Hal ini mungkin
dapat dilakukan dengan mencari platform bersama dan kepemimpinan
kolektif. Namun Agar mampu merekrut kalangan radikal, deklarasi ini harus
dipertajam.
Kedua,mereka harus mengurangi daya tarik
revolusi sehingga revolusi tidak menjadi mainstream aksi perubahan, Daya
tarik revolusi hanya berkurang jika perubahan yang subtansial dalam
lembaga pemerintah dan konstitusi, Jika lembaga pemerintahan semakin
dipercaya kesungguhannya dan konstitusi diperbaki kelemahannya,revolusi
serta merta kehilangan pesonanya.
Ketiga,tekanan
terhadap garis keras pemerintahan secara intensif terus dilakukan dengan
menggunakan semua sarana yang dibolehkan konstitusi, Pembentukan
opini publik, demontrasi masa dengan cara damai, serta negosiasi di
kalangan elite dapat dilakukan secara serentak, Tekanan ini akan semakin
bergema jika adanya platform bersama pendukung reformasi, serta berbagai
kekuatan pro perubahan menyatukan diri, Mekanisme konstitusi dari jalan
non kekerasan harus menjadi kerangka gerakan.
Jika ketiga
syarat di atas terjadi, reformasi akan mengungguli baik revolusi
ataupun involusi. Dengan demikian masa transisi yang serba tidak pasti
dapat dipersingkat.
Banyak hal yang akan
kita dapatkan dari buku ini. Semuanya diungkap secara ringkas
mengenai sejarah politik yang terjadi di Indonesia. Tetapi, dalam buku
yang juga membahas mengenai transisi demokrasi Indonesia ini tidak
memberikan data-data yang akurat karena kurangnya data yang didapat dari
media massa di saat itu yang dapat menguatkan isi dari buku itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar