Minggu, 05 Januari 2014

Mau Dibawa Kemana Reformasi Indonesia?

Judul       : Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi 
                 IndonesiaPenulis    : Denny J.A
Tebal       : 124 Halaman
Penerbit   : LKIS Yogyakarta
ISBN       : 979-25-5239-1

“Ternyata jalan menuju tanahharapan, yaitu demokrasi murni, masih panjang dan berliku”

Buku Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia yang ditulis oleh Denny J.Aini ditulis dengan cara menganalisa suatu peristiwa dan memberi komentar yang kemudian dipublikasikan di media massa Indonesia, mulai dari Kompas, GATRA,Forum keadilan, GAMMA, dan Republika, sampai dengan Juli 1999. Buku ini dipersiapkan untuk merekam aneka peristiwa politik penting sejak jatuhnya Soeharto sampai ke suasana menjelang terbentuknnya pemerintahan baru hasil pemilu 1999.

Masalah yang dibahas dibuku ini mencakup, bagaimana kontestasi makna formasi dalam dramatisme di Indonesia pada periode 1997 sampai tahun 1998 dan bagaimana peran aktor-aktor politik dalam tindakan komunikasi politik mereka dalam gerakan reformasi tersebut. Dalam pidato bung Karno sendiri pada tangaal 17 Agustus 1964 pernah menyebutkan bahwa siapa yang anti NASAKOM berarti dia telah membincangkan dan mencampakkan revolusi, dan tidak penuh revolusioner, bahkan historis kontra revolusioner
.
Reformasi akan terlaksana jika perubahan politik substansial dengan menggunakan mekanisme konstitusi yang ada. Ada tiga pendukung reformasi yang bertindak dalam tiga hal, Pertama, mereka harus menyelesaikan fragmentasi dan persaingan kepemimpinan di kalangan mereka sendiri, Hal ini mungkin dapat dilakukan dengan mencari platform bersama dan kepemimpinan kolektif. Namun Agar mampu merekrut kalangan radikal, deklarasi ini harus dipertajam.

Kedua,mereka harus mengurangi daya tarik revolusi sehingga revolusi tidak menjadi mainstream aksi perubahan, Daya tarik revolusi hanya berkurang jika perubahan yang subtansial dalam lembaga pemerintah dan konstitusi, Jika lembaga pemerintahan semakin dipercaya kesungguhannya dan konstitusi diperbaki kelemahannya,revolusi serta merta kehilangan pesonanya.

Ketiga,tekanan terhadap garis keras pemerintahan secara intensif terus dilakukan dengan menggunakan semua sarana yang dibolehkan konstitusi, Pembentukan opini publik, demontrasi masa dengan cara damai, serta negosiasi di kalangan elite dapat dilakukan secara serentak, Tekanan ini akan semakin bergema jika adanya platform bersama pendukung reformasi, serta berbagai kekuatan pro perubahan menyatukan diri, Mekanisme konstitusi dari jalan non kekerasan harus menjadi kerangka gerakan.

Jika ketiga syarat di atas terjadi, reformasi akan mengungguli baik revolusi ataupun involusi. Dengan demikian masa transisi yang serba tidak pasti dapat dipersingkat.

Banyak hal yang akan kita dapatkan dari buku ini. Semuanya diungkap secara ringkas mengenai sejarah politik yang terjadi di Indonesia. Tetapi, dalam buku yang juga membahas mengenai transisi demokrasi Indonesia ini tidak memberikan data-data yang akurat karena kurangnya data yang didapat dari media massa di saat itu yang dapat menguatkan isi dari buku itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar