Ospek. Kata ini sudah sangat familiar di masyarakat. Orientasi Studi
dan Pengenalan Kampus atau Ospekmerupakan momentum bersejarah bagi setiap
mahasiswa baru yang memasuki pintugerbang perguruan tinggi. Ospek
dengan seluruh rangkaian acaranya merupakanawal pembentukan watak bagi
seorang mahasiswa baru.Mahasiswabaru tak afdol rasanya jika tidak
melewati masa ospek karena ospek adalahsebuah kegiatan perkenalan kampus
untuk mahasiswa baru.
Ospek yang kita kenal
sekarangtentu tidak muncul tiba-tiba bagai simsalabim. Ospek ternyata
punya sisihistoris yang cukup panjang. Ospek merupakan metamorfosa nama
dari prosespenerimaan mahasiswa baru yang awalnya dikenal dengan istilah
Ontgroening.Ospek itu tradisi yang sudah tersistem menjadi
kultur kampus. Dari yang awalnyaesensi ospek sebagai pengenalam kampus.
Kemudian, ospek menjadi hal yang wajib.Namun, soal nama tidak lagi
menjadi ospek, namun ada berbagai macam nama sesuaidengan kebijakan
universitas. "Misalnya, di UI, sebutannya adalahOrientasi Kehidupan
Kampus (OKK) dan di UNJ sendiri adalah Masa Pengenalan Akademik (MPA).
Dalam
kenyataannya ospek diIndonesia masih diwarnai dengan unsur kekerasan,
penindasan dan militerisme sebagaimanatercermin dalam tindakan
membentak-bentak, penciptaan suasana yang anti dialogatau pada pemberian
sanksi yang cenderung bersifat fisik semata tanpa adakaitan sama sekali
dengan pembentukan karakter dan idealisme mahasiswa.
Ospek
yang demikian itu justrumenimbulkan “situasi penindasan”. Mahasiswa
lama (panitia Ospek) sebagai penindasdan mahasiswa baru (peserta Ospek)
sebagai kaum tertindas. Sebenarnya, setiaptahun, masyarakat telah
menyampaikan banyak kritikan dan keberatan ataspelaksanaan ospek yang
ditengarai banyak diwarnai kekerasan, penindasan dannuansa militer
seperti itu . Akan tetapi, nyatanya, walau selalu menuai
kritik,pelaksanaan Ospek tidak banyak berubah.
Berdasarkan
analisis PauloFreire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan
pembebasan dari Brasil, parapanitia Ospek bisa seperti itu karena
dulunya pada waktu menjadi peserta Ospekmereka juga pernah mengalami
“situasi penindasan”. Dalam bukunya Pedagogiof The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas,LP3ES, 1985)
Freire mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaumtertindas
melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka
mengidentifikasidirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas
dan tercerabut darikemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum
penindas yang berkuasadengan harkat kemanusian yang sempurna. Kaum
tertindas sulit untukmenemukan citra diri di luar kontradiksi
penindas-tertindas. Karena itu, bagimereka, upaya pembebasan diri untuk
mendapatkan harkat dan martabatkemanusiannya, adalah dengan menjadi
manusia yang memiliki citra diri sepertiyang mereka temukan dalam sosok
para penindas.
Dari paparan di atas, apabilapelaksanaan Ospek masih diwarnai dengan nuansa penindasan, setidaknyamemunculkan dua hal. Pertama, Ospek
melahirkan “situasi penindasan”.“Situasi penindasan” akan melahirkan
sosok-sosok penindas baru yang suatu saatapabila mendapatkan kesempatan
akan mencoba untuk melahirkan situasi penindasanbaru, begitu pula nanti
seterusnya. Kedua, Ospek akan melahirkangenerasi yang patuh,
acuh tak acuh, tidak kritis dan tidak berani menentangterhadap
praktik-praktik penindasan.
Lain halnya dengan
Perguruan Tinggidi Jerman, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan
penerimaan mahasiswa barudisana tidak membuang waktu lama. Pengenalan
mahasiswa baru secara efektifhanya diselenggarakan selama kurang lebih
2-3 hari. Rincian kegiatan jugakurang lebih serupa, mahasiswa baru
diterima secara langsung oleh petinggi PerguruanTinggi setara Rektor,
Pembantu Rektor bidang akademik ataupun Dekan Fakultas.Mereka
mendapatkan pengarahan akademis secara umum dalam tingkatan
universitas,fakultas dan jurusan. Lalu dilanjutkan dengan Tour de Campus untukmengenalkan
fasilitas kampus itu sendiri, juga mengemas kegiatan ini menjadisebuah
permainan seru. Selebihnya mereka mengadakan acara kumpul-kumpul
bersamaseperti Barbeque Party di taman kampus atau Welcoming Partydi sebuah klub. Tak ada satupun kegiatan ‚bantai-membantai antara seniorterhadap junior.
Tradisi
budaya boleh berbeda,namun tak ada salahnya apabila kita bisa mengambil
sisi positif dari hal yangpositif .Melihat juga usia mahasiswa yang
sudah layak disebut dewasa makaalangkah baiknya mereka diberi kesempatan
untuk berbagi pengalaman denganseniornya dengan cara yang bijak dan
perlakuan yang dewasa pula, tanpamelibatkan tindakan kekerasan yang
berpotensi menimbulkan anarkis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar