Sabtu, 12 Agustus 2017

Ospek, Tradisi turun-temurun perlukah dibudayakan ?

Ospek. Kata ini sudah sangat familiar di masyarakat. Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospekmerupakan momentum bersejarah bagi setiap mahasiswa baru yang memasuki pintugerbang perguruan tinggi. Ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakanawal pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru.Mahasiswabaru tak afdol rasanya jika tidak melewati masa ospek karena ospek adalahsebuah kegiatan perkenalan kampus untuk mahasiswa baru.

Ospek yang kita kenal sekarangtentu tidak muncul tiba-tiba bagai simsalabim. Ospek ternyata punya sisihistoris yang cukup panjang. Ospek merupakan metamorfosa nama dari prosespenerimaan mahasiswa baru yang awalnya dikenal dengan istilah Ontgroening.Ospek itu tradisi yang sudah tersistem menjadi kultur kampus. Dari yang awalnyaesensi ospek sebagai pengenalam kampus. Kemudian, ospek menjadi hal yang wajib.Namun, soal nama tidak lagi menjadi ospek, namun ada berbagai macam nama sesuaidengan kebijakan universitas. "Misalnya, di UI, sebutannya adalahOrientasi Kehidupan Kampus (OKK) dan di UNJ sendiri adalah Masa Pengenalan Akademik (MPA).

Dalam kenyataannya ospek diIndonesia masih diwarnai dengan unsur kekerasan, penindasan dan militerisme sebagaimanatercermin dalam tindakan membentak-bentak, penciptaan suasana yang anti dialogatau pada pemberian sanksi yang cenderung bersifat fisik semata tanpa adakaitan sama sekali dengan pembentukan karakter dan idealisme mahasiswa.

Ospek yang demikian itu justrumenimbulkan “situasi penindasan”. Mahasiswa lama (panitia Ospek) sebagai penindasdan mahasiswa baru (peserta Ospek) sebagai kaum tertindas. Sebenarnya, setiaptahun, masyarakat telah menyampaikan banyak kritikan dan keberatan ataspelaksanaan ospek yang ditengarai banyak diwarnai kekerasan, penindasan dannuansa militer seperti itu . Akan tetapi, nyatanya, walau selalu menuai kritik,pelaksanaan Ospek tidak banyak berubah.

Berdasarkan analisis PauloFreire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan pembebasan dari Brasil, parapanitia Ospek bisa seperti itu karena dulunya pada waktu menjadi peserta Ospekmereka juga pernah mengalami “situasi penindasan”. Dalam bukunya Pedagogiof The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas,LP3ES, 1985) Freire mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaumtertindas melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka mengidentifikasidirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas dan tercerabut darikemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum penindas yang berkuasadengan harkat kemanusian yang sempurna. Kaum tertindas sulit untukmenemukan citra diri di luar kontradiksi penindas-tertindas. Karena itu, bagimereka, upaya pembebasan diri untuk mendapatkan harkat dan martabatkemanusiannya, adalah dengan menjadi manusia yang memiliki citra diri sepertiyang mereka temukan dalam sosok para penindas.

Dari paparan di atas, apabilapelaksanaan Ospek masih diwarnai dengan nuansa penindasan, setidaknyamemunculkan dua hal. Pertama, Ospek melahirkan “situasi penindasan”.“Situasi penindasan” akan melahirkan sosok-sosok penindas baru yang suatu saatapabila mendapatkan kesempatan akan mencoba untuk melahirkan situasi penindasanbaru, begitu pula nanti seterusnya. Kedua, Ospek akan melahirkangenerasi yang patuh, acuh tak acuh, tidak kritis dan tidak berani menentangterhadap praktik-praktik penindasan.

Lain halnya dengan Perguruan Tinggidi Jerman, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan penerimaan mahasiswa barudisana tidak membuang waktu lama. Pengenalan mahasiswa baru secara efektifhanya diselenggarakan selama kurang lebih 2-3 hari. Rincian kegiatan jugakurang lebih serupa, mahasiswa baru diterima secara langsung oleh petinggi PerguruanTinggi setara Rektor, Pembantu Rektor bidang akademik ataupun Dekan Fakultas.Mereka mendapatkan pengarahan akademis secara umum dalam tingkatan universitas,fakultas dan jurusan. Lalu dilanjutkan dengan Tour de Campus untukmengenalkan fasilitas kampus itu sendiri, juga mengemas kegiatan ini menjadisebuah permainan seru. Selebihnya mereka mengadakan acara kumpul-kumpul bersamaseperti Barbeque Party di taman kampus atau Welcoming Partydi sebuah klub. Tak ada satupun kegiatan ‚bantai-membantai antara seniorterhadap junior.

Tradisi budaya boleh berbeda,namun tak ada salahnya apabila kita bisa mengambil sisi positif dari hal yangpositif .Melihat juga usia mahasiswa yang sudah layak disebut dewasa makaalangkah baiknya mereka diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman denganseniornya dengan cara yang bijak dan perlakuan yang dewasa pula, tanpamelibatkan tindakan kekerasan yang berpotensi menimbulkan anarkis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar